Android (
/ˈæn.drɔɪd/;
AN-droyd) adalah
sistem operasi berbasis
Linux yang dirancang untuk perangkat seluler
layar sentuh seperti
telepon pintar dan
komputer tablet.
[11] Android awalnya dikembangkan oleh Android, Inc., dengan dukungan finansial dari
Google, yang kemudian membelinya pada tahun 2005.
[12] Sistem operasi ini dirilis secara resmi pada tahun 2007, bersamaan dengan didirikannya
Open Handset Alliance, konsorsium dari perusahaan-perusahaan
perangkat keras, perangkat lunak, dan telekomunikasi yang bertujuan untuk memajukan
standar terbuka perangkat seluler.
[13] Ponsel Android pertama mulai dijual pada bulan Oktober 2008.
[14]
Android adalah sistem operasi dengan
sumber terbuka, dan Google merilis kodenya di bawah
Lisensi Apache.
[11]
Kode dengan sumber terbuka dan lisensi perizinan pada Android
memungkinkan perangkat lunak untuk dimodifikasi secara bebas dan
didistribusikan oleh para pembuat perangkat, operator nirkabel, dan
pengembang aplikasi. Selain itu, Android memiliki sejumlah besar
komunitas pengembang aplikasi (
apps) yang memperluas fungsionalitas perangkat, umumnya ditulis dalam versi kustomisasi bahasa pemrograman
Java.
[15]
Pada bulan Oktober 2012, ada sekitar 700.000 aplikasi yang tersedia
untuk Android, dan sekitar 25 juta aplikasi telah diunduh dari
Google Play, toko aplikasi utama Android.
[16][17]
Sebuah survey pada bulan April-Mei 2013 menemukan bahwa Android adalah
platform paling populer bagi para pengembang, digunakan oleh 71%
pengembang aplikasi seluler.
[18]
Faktor-faktor di atas telah memberikan kontribusi terhadap
perkembangan Android, menjadikannya sebagai sistem operasi telepon
pintar yang paling banyak digunakan di dunia,
[19] mengalahkan
Symbian pada tahun 2010.
[20]
Android juga menjadi pilihan bagi perusahaan teknologi yang
menginginkan sistem operasi berbiaya rendah, bisa dikustomisasi, dan
ringan untuk perangkat berteknologi tinggi tanpa harus mengembangkannya
dari awal.
[21]
Akibatnya, meskipun pada awalnya sistem operasi ini dirancang khusus
untuk telepon pintar dan tablet, Android juga dikembangkan menjadi
aplikasi tambahan di televisi,
konsol permainan,
kamera digital,
dan perangkat elektronik lainnya. Sifat Android yang terbuka telah
mendorong munculnya sejumlah besar komunitas pengembang aplikasi untuk
menggunakan kode sumber terbuka sebagai dasar proyek pembuatan aplikasi,
dengan menambahkan fitur-fitur baru bagi pengguna tingkat lanjut atau
mengoperasikan Android pada perangkat yang secara resmi dirilis dengan
menggunakan sistem operasi lain.
[22]
Android menguasai pangsa pasar telepon pintar global, yang dipimpin oleh produk-produk
Samsung, dengan persentase 64% pada bulan Maret 2013.
[23] Pada Juli 2013, terdapat 11.868 perangkat Android berbeda dengan beragam versi.
[24] Keberhasilan sistem operasi ini juga menjadikannya sebagai target ligitasi paten "
perang telepon pintar" antar perusahaan-perusahaan teknologi.
[25][26]
Hingga bulan Mei 2013, total 900 juta perangkat Android telah
diaktifkan di seluruh dunia, dan 48 miliar aplikasi telah dipasang dari
Google Play.
[27][28]
Sejarah
Android, Inc. didirikan di
Palo Alto, California, pada bulan Oktober 2003 oleh
Andy Rubin (pendiri
Danger),
[29] Rich Miner (pendiri Wildfire Communications, Inc.),
[30] Nick Sears
[31] (mantan VP
T-Mobile), dan Chris White (kepala desain dan pengembangan antarmuka
WebTV)
[12] untuk mengembangkan "perangkat seluler pintar yang lebih sadar akan lokasi dan preferensi penggunanya".
[12] Tujuan awal pengembangan Android adalah untuk mengembangkan sebuah sistem operasi canggih yang diperuntukkan bagi
kamera digital,
namun kemudian disadari bahwa pasar untuk perangkat tersebut tidak
cukup besar, dan pengembangan Android lalu dialihkan bagi pasar telepon
pintar untuk menyaingi
Symbian dan
Windows Mobile (
iPhone Apple belum dirilis pada saat itu).
[32]
Meskipun para pengembang Android adalah pakar-pakar teknologi yang
berpengalaman, Android Inc. dioperasikan secara diam-diam, hanya
diungkapkan bahwa para pengembang sedang menciptakan sebuah perangkat
lunak yang diperuntukkan bagi telepon seluler.
[12] Masih pada tahun yang sama, Rubin kehabisan uang.
Steve Perlman, seorang teman dekat Rubin, meminjaminya $10.000 tunai dan menolak tawaran saham di perusahaan.
[33]
Google
mengakuisisi Android Inc. pada tanggal 17 Agustus 2005, menjadikannya
sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Google. Pendiri
Android Inc. seperti Rubin, Miner dan White tetap bekerja di perusahaan
setelah diakuisisi oleh Google.
[12]
Setelah itu, tidak banyak yang diketahui tentang perkembangan Android
Inc., namun banyak anggapan yang menyatakan bahwa Google berencana untuk
memasuki pasar telepon seluler dengan tindakannya ini.
[12] Di Google, tim yang dipimpin oleh Rubin mulai mengembangkan platform perangkat seluler dengan menggunakan
kernel Linux. Google memasarkan platform tersebut kepada produsen perangkat seluler dan
operator nirkabel,
dengan janji bahwa mereka menyediakan sistem yang fleksibel dan bisa
diperbarui. Google telah memilih beberapa mitra perusahaan perangkat
lunak dan perangkat keras, serta mengisyaratkan kepada operator seluler
bahwa kerjasama ini terbuka bagi siapapun yang ingin berpartisipasi.
[34][35][36]
Spekulasi tentang niat Google untuk memasuki pasar komunikasi seluler terus berkembang hingga bulan Desember 2006.
[37] BBC dan
Wall Street Journal melaporkan bahwa Google sedang bekerja keras untuk menyertakan aplikasi dan
mesin pencarinya
di perangkat seluler. Berbagai media cetak dan media daring mengabarkan
bahwa Google sedang mengembangkan perangkat seluler dengan merek
Google. Beberapa di antaranya berspekulasi bahwa Google telah menentukan
spesifikasi teknisnya, termasuk produsen telepon seluler dan operator
jaringan. Pada bulan Desember 2007,
InformationWeek melaporkan bahwa Google telah mengajukan beberapa aplikasi paten di bidang telepon seluler.
[38][39]
Pada tanggal 5 November 2007,
Open Handset Alliance (OHA) didirikan. OHA adalah
konsorsium dari perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google, produsen perangkat seluler seperti
HTC,
Sony dan
Samsung, operator nirkabel seperti
Sprint Nextel dan
T-Mobile, serta produsen chipset seperti
Qualcomm dan
Texas Instruments. OHA sendiri bertujuan untuk mengembangkan
standar terbuka bagi perangkat seluler.
[13] Saat itu, Android diresmikan sebagai produk pertamanya; sebuah
platform perangkat seluler yang menggunakan
kernel Linux versi 2.6.
[13] Telepon seluler komersial pertama yang menggunakan sistem operasi Android adalah
HTC Dream, yang diluncurkan pada 22 Oktober 2008.
[40]
Sejak tahun 2008, Android secara bertahap telah melakukan sejumlah
pembaruan untuk meningkatkan kinerja sistem operasi, menambahkan fitur
baru, dan memperbaiki
bug
yang terdapat pada versi sebelumnya. Setiap versi utama yang dirilis
dinamakan secara alfabetis berdasarkan nama-nama makanan pencuci mulut
atau cemilan bergula; misalnya, versi 1.5 bernama
Cupcake, yang kemudian diikuti oleh versi 1.6
Donut. Versi terbaru adalah 4.3
Jelly Bean.
[41] Pada tahun 2010, Google merilis seri
Nexus;
perangkat telepon pintar dan tablet dengan sistem operasi Android yang
diproduksi oleh mitra produsen telepon seluler seperti HTC,
LG, dan Samsung. HTC bekerjasama dengan Google dalam merilis produk telepon pintar Nexus pertama, yakni
Nexus One.
[42] Seri ini telah diperbarui dengan perangkat yang lebih baru, misalnya telepon pintar
Nexus 4 dan tablet
Nexus 10 yang diproduksi oleh LG dan Samsung.
Pada 13 Maret 2013,
Larry Page
mengumumkan dalam postingan blognya bahwa Andy Rubin telah pindah dari
divisi Android untuk mengerjakan proyek-proyek baru di Google.
[43] Ia digantikan oleh
Sundar Pichai, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala divisi Google Chrome yang mengembangkan
Chrome OS.
[44]
Deskripsi
Antarmuka
Layar notifikasi pada ponsel Android.
Antarmuka pengguna pada Android didasarkan pada
manipulasi langsung,
[45] menggunakan masukan sentuh yang serupa dengan tindakan di dunia nyata, misalnya menggesek (
swiping), mengetuk (
tapping), dan mencubit (
pinching), untuk memanipulasi obyek di layar.
[45]
Masukan pengguna direspon dengan cepat dan juga tersedia antarmuka
sentuh layaknya permukaan air, seringkali menggunakan kemampuan getaran
perangkat untuk memberikan
umpan balik haptik kepada pengguna.
Perangkat keras internal seperti
akselerometer,
giroskop, dan
sensor proksimitas
digunakan oleh beberapa aplikasi untuk merespon tindakan pengguna,
misalnya untuk menyesuaikan posisi layar dari potret ke lanskap,
tergantung pada bagaimana perangkat diposisikan, atau memungkinkan
pengguna untuk mengarahkan kendaraan saat bermain balapan dengan memutar
perangkat sebagai simulasi kendali setir.
[46]
Ketika dihidupkan, perangkat Android akan boot pada layar depan (
homescreen), yakni navigasi utama dan pusat informasi pada perangkat, serupa dengan
desktop pada
komputer pribadi. Layar depan Android biasanya terdiri dari ikon
aplikasi dan
widget;
ikon aplikasi berfungsi untuk menjalankan aplikasi terkait, sedangkan
widget menampilkan konten secara langsung dan terbarui otomatis,
misalnya prakiraan cuaca, kotak masuk
surel pengguna, atau menampilkan tiker berita secara langsung dari layar depan.
[47]
Layar depan bisa terdiri dari beberapa halaman, pengguna dapat
menggeser bolak balik antara satu halaman ke halaman lainnya, yang
memungkinkan pengguna Android untuk mengatur tampilan perangkat sesuai
dengan selera mereka. Beberapa aplikasi pihak ketiga yang tersedia di
Google Play
dan di toko aplikasi lainnya secara ekstensif mampu mengatur kembali
tema layar depan Android, dan bahkan bisa meniru tampilan sistem operasi
lain, misalnya
Windows Phone.
[48]
Kebanyakan produsen telepon seluler dan operator nirkabel menyesuaikan
tampilan perangkat Android buatan mereka untuk membedakannya dari
pesaing mereka.
[49]
Di bagian atas layar terdapat status bar, yang menampilkan informasi
tentang perangkat dan konektivitasnya. Status bar ini bisa "ditarik" ke
bawah untuk membuka layar notifikasi yang menampilkan informasi penting
atau pembaruan aplikasi, misalnya surel diterima atau SMS masuk, dengan
cara tidak mengganggu kegiatan pengguna pada perangkat.
[50]
Pada versi awal Android, layar notifikasi ini bisa digunakan untuk
membuka aplikasi yang relevan, namun setelah diperbarui, fungsi ini
semakin disempurnakan, misalnya kemampuan untuk memanggil kembali nomor
telepon dari notifikasi panggilan tak terjawab tanpa harus membuka
aplikasi utama.
[51] Notifikasi ini akan tetap ada sampai pengguna melihatnya, atau dihapus dan di nonaktifkan oleh pengguna.
Aplikasi
Android memungkinkan penggunanya untuk memasang aplikasi pihak ketiga, baik yang diperoleh dari toko aplikasi seperti
Google Play,
Amazon Appstore, ataupun dengan mengunduh dan memasang berkas
APK dari situs pihak ketiga.
[52]
Di Google Play, pengguna bisa menjelajah, mengunduh, dan memperbarui
aplikasi yang diterbitkan oleh Google dan pengembang pihak ketiga,
sesuai dengan persyaratan kompatibilitas Google.
[53]
Google Play akan menyaring daftar aplikasi yang tersedia berdasarkan
kompatibilitasnya dengan perangkat pengguna, dan pengembang dapat
membatasi aplikasi ciptaan mereka bagi operator atau negara tertentu
untuk alasan bisnis.
[54] Pembelian aplikasi yang tidak sesuai dengan keinginan pengguna dapat dikembalikan dalam waktu 15 menit setelah pengunduhan.
[55]
Beberapa operator seluler juga menawarkan tagihan langsung untuk
pembelian aplikasi di Google Play dengan cara menambahkan harga
pembelian aplikasi pada tagihan bulanan pengguna.
[56]
Pada bulan September 2012, ada lebih dari 675.000 aplikasi yang
tersedia untuk Android, dan perkiraan jumlah aplikasi yang diunduh dari
Play Store adalah 25 miliar.
[57]
Aplikasi Android dikembangkan dalam bahasa pemrograman
Java dengan menggunakan kit
pengembangan perangkat lunak Android (SDK). SDK ini terdiri dari seperangkat perkakas pengembangan,
[58] termasuk
debugger,
perpustakaan perangkat lunak, emulator handset yang berbasis
QEMU, dokumentasi, kode sampel, dan tutorial. Didukung secara resmi oleh
lingkungan pengembangan terpadu (IDE)
Eclipse, yang menggunakan plugin Android Development Tools (ADT). Perkakas pengembangan lain yang tersedia di antaranya adalah
Native Development Kit untuk aplikasi atau ekstensi dalam C atau C++,
Google App Inventor, lingkungan visual untuk pemrogram pemula, dan berbagai kerangka kerja aplikasi web seluler lintas
platform.
Dalam rangka menghadapi
penyensoran Internet di Republik Rakyat Cina, perangkat Android yang dijual di RRC umumnya disesuaikan dengan layanan yang disetujui oleh negara.
[59]
Pengembangan
Android dikembangkan secara pribadi oleh Google sampai perubahan
terbaru dan pembaruan siap untuk dirilis, dan informasi mengenai kode
sumber juga mulai diungkapkan kepada publik.
[60] Kode sumber ini hanya akan berjalan tanpa modifikasi pada perangkat tertentu, biasanya pada seri
Nexus.
[61] Ada
binari tersendiri yang disediakan oleh produsen agar Android bisa beroperasi.
[62] Logo Android yang berwarna hijau dirancang oleh desainer grafis Irina Blok.
[63][64][65]
Linux
Android terdiri dari
kernel yang berbasis
kernel Linux versi 3.x (versi 2.6 pada Android 4.0
Ice Cream Sandwich dan pendahulunya).
Peranti tengah, perpustakaan perangkat lunak, dan
API ditulis dalam
C, dan
perangkat lunak aplikasi berjalan pada
kerangka kerja aplikasi, termasuk perpustakan kompatibel-Java yang berbasis
Apache Harmony. Android menggunakan
mesin virtual Dalvik dengan
kompilasi tepat waktu untuk menjalankan 'dex-code' Dalvik (Dalvik Executable), biasanya diterjemahkan dari
kodebit Java.
[66] Platform perangkat keras utama pada Android adalah
arsitektur ARM. Ada juga dukungan untuk
x86 dari proyek
Android-x86,
[6] dan
Google TV menggunakan versi x86 khusus Android. Pada tahun 2013,
Freescale mengumumkan melibatkan Android dalam prosesor
i.MX buatannya, yakni seri i.MX5X dan i.MX6X.
[67] Pada 2012, prosesor
Intel juga mulai muncul pada platform utama Android, misalnya pada telepon seluler.
[68]
Arsitektur kernel Linux pada Android telah diubah oleh Google, berbeda dengan siklus pengembangan kernel Linux biasa.
[69] Secara standar, Android tidak memiliki
X Window System asli ataupun dukungan set lengkap dari perpustakaan
GNU standar. Oleh sebab itu, sulit untuk mem
porting perpustakaan atau aplikasi Linux pada Android.
[70] Dukungan untuk aplikasi simpel C dan
SDL bisa dilakukan dengan cara menginjeksi
shim Java dan menggunakan
JNI,
[71] misalnya pada port
Jagged Alliance 2 untuk Android.
[72]
Salah satu fitur yang coba disumbangkan oleh Google untuk kernel
Linux adalah fitur manajemen daya yang disebut "wakelocks", namun fitur
ini ditolak oleh pengembang kernel utama karena mereka merasa bahwa
Google tidak menunjukkan niatnya untuk mengembangkan kodenya sendiri.
[73][74][75] Pada bulan April 2010, Google mengumumkan bahwa mereka akan menyewa dua karyawan untuk mengembangkan komunitas kernel Linux,
[76] namun,
Greg Kroah-Hartman,
pengelola kernel Linux versi stabil, menyatakan pada bulan Desember
2010; ia khawatir bahwa Google tak lagi berusaha untuk mengubah kode
utama Linux.
[74]
Beberapa pengembang Android di Google mengisyaratkan bahwa "tim Android
sudah mulai jenuh dengan proses ini", karena mereka hanyalah tim kecil
dan dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang mendesak demi keberlangsungan
Android.
[77]
Pada Agustus 2011,
Linus Torvalds menyatakan: "akhirnya Android dan Linux akan kembali pada kernel umum, tapi mungkin hanya untuk empat atau lima tahun kedepan".
[78]
Pada Desember 2011, Greg Kroah-Hartman mengumumkan dimulainya Android
Mainlining Project, yang bertujuan untuk mengembalikan beberapa
pemacu, patch, dan fitur Android pada kernel Linux, yang dimulai dengan Linux 3.3.
[79]
Setelah upaya sebelumnya gagal, Linux akhirnya menyertakan fitur
wakelocks dan autosleep pada kernel 3.5. Antarmukanya masih sama, namun
implementasi Linux yang baru memiliki dua mode
suspend berbeda:
suspend ke penyimpanan (
suspend tradisional yang digunakan oleh Android), dan ke cakram (hibernasi, serupa dengan fitur yang ada pada desktop).
[80]
Penyertaan fitur baru ini akan rampung pada Kernel 3.8, Google telah
membuka repositori kode publik yang berisi karya eksperimental mereka
untuk mendesain ulang Android dengan Kernel 3.8.
[81]
Memori kilat (
flash storage)
pada perangkat Android dibagi menjadi beberapa partisi, misalnya
"/system" untuk sistem operasi, dan "/data" untuk pemasangan aplikasi
dan data pengguna.
[82] Berbeda dengan distribusi desktop Linux, pemilik perangkat Android tidak diberikan akses
root pada sistem operasi, dan partisi sensitif seperti /system bersifat
read-only. Namun, akses root dapat diperoleh dengan cara memanfaatkan kelemahan keamanan pada Android, cara ini sering digunakan oleh
komunitas sumber terbuka untuk meningkatkan kinerja perangkat mereka,
[83] namun juga bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan
virus dan
perangkat perusak.
[84]
Terkait dengan masalah apakah Android bisa digolongkan ke dalam distribusi Linux masih diperdebatkan secara luas.
[85] Linux Foundation dan
Chris DiBona,
[86]
kepala sumber terbuka Google, mendukung hal ini. Sedangkan yang
lainnya, seperti teknisi Google Patrick Brady, menentangnya, ia
beralasan bahwa Android kurang mendukung sebagian besar perkakas
GNU, termasuk
glibc.
[87]
Pengelolaan memori
Karena perangkat Android umumnya bertenaga baterai, Android dirancang untuk mengelola memori (
RAM) guna menjaga konsumsi daya minimal, berbeda dengan sistem operasi desktop yang bisa terhubung pada sumber daya
listrik tak terbatas. Ketika sebuah aplikasi Android tidak lagi digunakan, sistem secara otomatis akan menangguhkannya (
suspend)
dalam memori – secara teknis aplikasi tersebut masih "terbuka", namun
dengan ditangguhkan, aplikasi tidak akan mengkonsumsi sumber daya
(misalnya daya baterai atau daya pemrosesan), dan akan "diam" di latar
belakang hingga aplikasi tersebut digunakan kembali. Cara ini memiliki
manfaat ganda, tidak hanya meningkatkan respon perangkat Android karena
aplikasi tidak perlu ditutup dan dibuka kembali dari awal setiap saat,
tetapi juga memastikan bahwa aplikasi yang berjalan di latar belakang
tidak menghabiskan daya secara sia-sia.
[88]
Android mengelola aplikasi yang tersimpan di memori secara otomatis:
ketika memori lemah, sistem akan menonaktifkan aplikasi dan proses yang
tidak aktif untuk sementara waktu, aplikasi akan dinonaktifkan dalam
urutan terbalik, dimulai dari yang terakhir digunakan. Proses ini tidak
terlihat oleh pengguna, jadi pengguna tidak perlu mengelola memori atau
menonaktifkan aplikasi secara manual.
[89] Namun, kebingungan pengguna atas pengelolaan memori pada Android telah menyebabkan munculnya beberapa aplikasi
task killer pihak ketiga yang populer di Google Play.
[90]
Jadwal pembaruan
Google menyediakan pembaruan utama bagi versi Android, dengan jangka
waktu setiap enam sampai sembilan bulan. Sebagian besar perangkat mampu
menerima pembaruan
melalui udara (OTA).
[91] Pembaruan utama terbaru adalah Android 4.3
Jelly Bean.
[92]
Dibandingkan dengan sistem operasi seluler saingan utamanya, yaitu
iOS,
pembaruan Android biasanya lebih lambat diterima oleh perangkat
penggunanya. Untuk perangkat selain merek Nexus, pembaruan biasanya baru
bisa diterima dalam waktu berbulan-bulan setelah dirilisnya versi
resmi.
[93] Hal ini disebabkan oleh banyaknya variasi
perangkat keras
Android, sehingga setiap pembaruan harus disesuaikan secara khusus,
misalnya: kode sumber resmi Google hanya berjalan pada perangkat
Nexus.
Porting
Android pada perangkat keras tertentu yang dilakukan oleh produsen
telepon seluler membutuhkan waktu dan proses, para produsen ini umumnya
mengutamakan perangkat terbaru mereka untuk menerima pembaruan, dan
mengenyampingkan perangkat lama.
[93]
Oleh sebab itu, telepon pintar lama seringkali tidak diperbarui jika
produsen memutuskan bahwa itu hanya menghabiskan waktu, meskipun
sebenarnya perangkat tersebut mampu menerima pembaruan. Masalah ini
diperparah ketika produsen menyesuaikan Android dengan antarmuka dan
aplikasi ciptaan mereka, yang mana ini harus diterapkan kembali untuk
setiap perilisan terbaru. Penundaan lainnya juga bisa disebabkan oleh
operator nirkabel; setelah menerima pembaruan dari produsen ponsel,
operator akan menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka, misalnya
melakukan pengujian ekstensif terhadap jaringan sebelum mengirim
pembaruan kepada pengguna.
[93]
Kurangnya dukungan pasca-penjualan dari produsen ponsel dan operator
telah menimbulkan kritikan dari para konsumen dan media teknologi.
[94][95]
Beberapa pengkritik menyatakan bahwa industri memiliki motif keuangan
untuk tidak memperbarui perangkat mereka, seperti tidak adanya pembaruan
bagi perangkat lama dan memperbarui perangkat yang baru dengan tujuan
meningkatkan penjualan,
[96] sikap yang mereka sebut "menghina".
[95] The Guardian
melaporkan bahwa metode pembaruan yang rumit terjadi karena produsen
ponsel dan operator-lah yang telah merancangnya seperti itu.
[95]
Pada 2011, Google, yang bekerjasama dengan sejumlah perusahaan
industri, membentuk "Android Update Alliance", dengan janji bahwa mereka
akan memberikan pembaruan secara tepat waktu bagi setiap perangkat
dalam jangka 18 bulan setelah dirilisnya versi resmi.
[97] Sejak didirikan hingga tahun 2013, aliansi ini tak pernah disebut-sebut lagi.
[93]
Komunitas sumber terbuka
Android memiliki komunitas pengembang dan penggemar aktif yang
menggunakan kode sumber Android untuk mengembangkan dan mendistribusikan
versi modifikasi Android buatan mereka.
[98]
Komunitas pengembang ini seringkali memberikan pembaruan dan
fitur-fitur baru bagi perangkat lebih cepat jika dibandingkan dengan
produsen/operator, meskipun pembaruan tersebut tidak menjalani pengujian
ekstensif atau tidak memiliki jaminan kualitas.
[22]
Mereka berupaya untuk terus memberikan dukungan bagi
perangkat-perangkat lama yang tak lagi menerima pembaruan resmi, ataupun
memodifikasi perangkat Android agar bisa berjalan dengan menggunakan
sistem operasi lain, misalnya
HP TouchPad. Komunitas ini seringkali merilis pembaruan bagi perangkat pra-
rooted, dan berisi modifikasi yang tidak cocok bagi pengguna non-teknis, misalnya kemampuan untuk
overclock atau
over/undervolt prosesor perangkat.
[99] CyanogenMod adalah
perangkat tegar (
firmware) komunitas yang paling banyak digunakan, dan menjadi dasar bagi sejumlah
firmware lainnya.
[100]
Secara historis, produsen perangkat dan operator seluler biasanya tidak mendukung pengembangan
firmware oleh pihak ketiga. Produsen khawatir bahwa akan muncul fungsi yang tidak sesuai jika perangkat menggunakan
perangkat lunak yang tidak resmi, sehingga akan menyebabkan munculnya biaya tambahan.
[101] Selain itu,
firmware modifikasi seperti CyanogenMod kadang-kadang menawarkan fitur yang membuat operator harus mengeluarkan biaya premium, misalnya
tethering. Akibatnya, kendala teknis seperti terkuncinya
bootloader dan terbatasnya akses untuk
root
umumnya bisa ditemui di kebanyakan perangkat Android. Namun, perangkat
lunak buatan komunitas pengembang semakin populer, dan setelah Kongres
Pustakawan Amerika Serikat mengijinkan "
jailbreaking" perangkat seluler,
[102]
produsen ponsel dan operator mulai memperlunak sikap mereka terhadap
pengembang pihak ketiga. Beberapa produsen ponsel, termasuk
HTC,
[101] Motorola,
[103] Samsung[104][105] dan
Sony,
[106] mulai memberikan dukungan dan mendorong pengembangan perangkat lunak pihak ketiga. Sebagai hasilnya, kendala
pembatasan perangkat keras untuk memasang
firmware tidak resmi mulai berkurang secara bertahap setelah meningkatnya jumlah perangkat yang memiliki kemampuan untuk membuka
bootloader, sama dengan seri ponsel Nexus, meskipun pengguna harus kehilangan
garansi perangkat mereka jika melakukannya.
[101] Akan tetapi, meskipun produsen ponsel telah menyetujui pengembangan perangkat lunak pihak ketiga, beberapa operator seluler di
Amerika Serikat masih mewajibkan ponsel penggunanya untuk "dikunci".
[107]
Kemampuan untuk membuka dan meretas sistem pada telepon pintar dan
tablet terus menjadi sumber perdebatan antar komunitas pengembang dan
industri; komunitas beralasan bahwa pengembangan tidak resmi dilakukan
karena industri gagal memberikan pembaruan yang tepat waktu bagi
pengguna, atau untuk tetap melanjutkan dukungan versi terbaru bagi
perangkat mereka.
[107]
Keamanan dan privasi
Izin aplikasi di Play Store
Aplikasi Android berjalan di
sandbox,
sebuah area terisolasi yang tidak memiliki akses pada sistem, kecuali
izin akses yang secara eksplisit diberikan oleh pengguna ketika memasang
aplikasi. Sebelum memasang aplikasi,
Play Store akan menampilkan semua izin yang diperlukan, misalnya: sebuah permainan perlu mengaktifkan getaran atau menyimpan data pada
Kartu SD,
tapi tidak perlu izin untuk membaca SMS atau mengakses buku telepon.
Setelah meninjau izin tersebut, pengguna dapat memilih untuk menerima
atau menolaknya, dan bisa memasang aplikasi hanya jika mereka
menerimanya.
[108]
Sistem
sandbox dan perizinan pada Android bisa mengurangi dampak kerentanan terhadap
bug
pada aplikasi, namun ketidaktahuan pengembang dan terbatasnya
dokumentasi telah menghasilkan aplikasi yang secara rutin meminta izin
yang tidak perlu, sehingga mengurangi efektivitasnya.
[109] Beberapa perusahaan keamanan perangkat lunak seperti
Avast,
Lookout Mobile Security,
[110] AVG Technologies,
[111] dan
McAfee,
[112]
telah merilis perangkat lunak antivirus ciptaan mereka untuk perangkat
Android. Perangkat lunak ini sebenarnya tidak bekerja secara efektif
karena
sandbox juga bekerja pada aplikasi tersebut, sehingga membatasi kemampuannya untuk memindai sistem secara lebih mendalam.
[113]
Hasil penelitian perusahaan keamanan
Trend Micro menunjukkan bahwa penyalahgunaan layanan premium adalah tipe
perangkat perusak (
malware)
paling umum yang menyerang Android; pesan teks akan dikirim dari ponsel
yang telah terinfeksi ke nomor telepon premium tanpa persetujuan atau
sepengetahuan pengguna.
[114]
Perangkat perusak lainnya akan menampilkan iklan yang tidak diinginkan
pada perangkat, atau mengirim informasi pribadi pada pihak ketiga yang
tak berwenang.
[114]
Ancaman keamanan pada Android dilaporkan tumbuh secara eksponensial,
namun teknisi di Google menyatakan bahwa perangkat perusak dan ancaman
virus pada Android hanya dibesar-besarkan oleh perusahaan antivirus
untuk alasan komersial,
[115][116] dan menuduh industri antivirus memanfaatkan situasi tersebut untuk menjual produknya kepada pengguna.
[115] Google menegaskan bahwa keberadaan perangkat perusak berbahaya pada Android sebenarnya sangat jarang,
[116]
dan survei yang dilakukan oleh F-Secure menunjukkan bahwa hanya 0,5%
dari perangkat perusak Android yang berasal dari Google Play.
[117]
Google baru-baru ini menggunakan pemindai perangkat perusak
Google Bouncer untuk mengawasi dan memindai aplikasi di Google Play.
[118]
Tindakan ini bertujuan untuk menandai aplikasi yang mencurigakan dan
memperingatkan pengguna atas potensi masalah pada aplikasi sebelum
mereka mengunduhnya.
[119] Android versi 4.2
Jelly Bean
dirilis pada tahun 2012 dengan fitur keamanan yang ditingkatkan,
termasuk pemindai perangkat perusak yang disertakan dalam sistem;
pemindai ini tidak hanya memeriksa aplikasi yang dipasang dari Google
Play, namun juga bisa memindai aplikasi yang diunduh dari situs-situs
pihak ketiga. Sistem akan memberikan peringatan yang memberitahukan
pengguna ketika aplikasi mencoba mengirim pesan teks premium, dan
memblokir pesan tersebut, kecuali jika pengguna mengijinkannya.
[120]
Telepon pintar Android memiliki kemampuan untuk melaporkan lokasi titik akses
Wi-Fi,
terutama jika pengguna sedang bepergian, untuk menciptakan basis data
yang berisi lokasi fisik dari ratusan juta titik akses tersebut. Basis
data ini membentuk peta elektronik yang bisa memosisikan lokasi telepon
pintar. Hal ini memungkinkan pengguna untuk menjalankan aplikasi seperti
Foursquare,
Google Latitude,
Facebook Places, dan untuk mengirimkan iklan berbasis lokasi.
[121]
Beberapa perangkat lunak pemantau pihak ketiga juga bisa mendeteksi
saat informasi pribadi dikirim dari aplikasi ke server jarak jauh.
[122][123]
Sifat sumber terbuka Android memungkinkan kontraktor keamanan untuk
menyesuaikan perangkat dengan penggunaan yang sangat aman. Misalnya,
Samsung bekerjasama dengan General Dynamics melalui proyek "Knox"
Open Kernel Labs.
[124][125]